Rabu, 08 Juni 2011

tentang pertambahan umur.

Isn't it scary, to know that you're going to move on into your next stage of life? Knowing that you'll have more responsibilities to carry on? If you look back to a year earlier, to what you've promised yourself to be in the next one year. Have you achieved it yet? All those hopes from people was those just ended up as unrealized hopes? And in this brand new year of life, you're going to do the same rituals. Greetings. Wishes. Celebration. Adding one to your age in whatsoever form or biography you'll write until 365 days later. Then what?

Ulang tahun. Mungkin sama seperti esensi makna di setiap kata yang menyusunnya.
Ulang. Tahun.
Repetitif? Ritualis?
Entahlah.
Tapi kalau ini tentang pengulangan, berarti ini mengulang kembali satu tahun di hidup anda? Aneh. Lalu buat apa penambahan nominal angka, atau harapan akan suatu yang lebih, entah lebih apa. Kalau tentang pengulangan, ulang saja cara hidupmu seperti yang sudah-sudah. Terus seperti itu.
Ulang tahun-ucapan selamat-harapan-janji-hidup yang sama-ulang tahun lagi-ucapan selamat lagi-harapan lagi-dan seterusnya.

Hahahaha, terlalu skeptis kah?
Saya bukan pemakna kata yang baik. Bukan juga pemakna momentum waktu yang handal. Cuma sekedar manusia bosan yang malas mengerjakan tugas di detik-detik terakhir sembilan belas tahun-nya.
Tapi bener deh, saya jadi galau gara-gara ketikan saya diatas itu.
Asu banget ya?

Satu tahun yang lalu, saat menjelang 9 Juni, saya sakit. Gagal nyusulin keluarga ke Jakarta. Gagal morotin Bapak (ups) di sana. Ujung-ujungnya cuma ketap-ketip di kamar dengan suhu badan sepanas tempat duduk yang udah didudukin selama berjam-jam (Kurang ekstrim ya? Saya cuma mencoba realistis kok. Lebay banget kan kalo saya samain sama kompor?), menggigil, dan super keliyengan. Penyakit itu emang semacam kurang ajar gak tau waktu, padahal sebelum-sebelumnya bisa dibilang sehat-sehat aja. Atau, dia menunggu waktu yang tepat? Entahlah. But I knew, it was all meant to be. Terus, terus, saya berencana banyak buat setahun ke depan. Kebanyakan malah. Berharap dan berekspektasi. Berasumsi bahwa faktor pendukung akan selalu sama. Nyatanya? Manusia kembali padaNya. Rasa hilang. Janji menguap. Semangat bisa pupus. Motivasi bisa tiba-tiba tersesat. Resolusi bisa jadi sekedar ritual yang tak terealisasi.

Tapi toh, nyatanya kehidupan akan tetap menjalankan agendanya tanpa hirau akan catatan rencanamu. Resolusi itu cuma motivator di awal jalan. Dan saat bertemu persimpangan tak terduga, toh harus sabar juga saat dipaksa berbelok, atau malah berbalik kembali pada jalan yang pernah kau hindar. Jangan bicara mimpi! Hadapi saja realita!
Hus, ngelantur.

Hmmm... Saya yang sekarang, setelah 1 tahun lewat, mungkin sudah jadi orang yang berbeda dan tetap sama sekaligus. Entahlah tahun depan.
Realisasi resolusi? No comment.

Penutupnya,
sebuah doa klasik yang sedikit kejam: wish all the best for me! :)
because the best isn't always what you want, right?


Regards,
20-years-old-me

0 comments:

Poskan Komentar