Sabtu, 03 April 2010

Emotions, Heart, Mind, and Reality

"then the emotions collided with heart and mind, yet it trembling to the reality"

Beberapa hari yang lalu, entah kenapa secara tidak sadar saya menulis kata-kata itu. Melesat begitu saja di kepala, dan terpampang sebagai status salah satu situs pertemanan yang saya miliki. Saya benar-benar tidak tahu apa yg saya maksud dengan sederet kata itu. Saat itu lewat tengah malam, saya pikir, "ah biasa, hanya pikiran random yg selalu jadi tamu malam hari di pikiran saya", sederet kata tanpa arti tertentu. 

Lalu HP saya berbunyi, 1 pesan masuk, dari seseorang yg pamit tidur beberapa menit sebelumnya, dia bertanya, tentang arti sederet kata itu. Jujur saya langsung terdiam, sadar akan ketidaktahuan saya akan kalimat itu. Dan diam, karena saya sadar kalimat itu bukan sederet kata tanpa arti. Tapi apa artinya?

Kamu bertanya, "tentang kita?". Tetap. Saya tidak bisa menjawab. Masih memutar otak. Pikir saya menghasilkan kata ini bukan tanpa sebab. Tangan saya menulis bukan tanpa arti. Hanya saya tenggelam dalam bingung akan pencarian sebuah arti. Lalu sebuah flashback berputar di kepala saya, tentang aku, kamu, hidupku. Tentang hari-hariku akhir-akhir ini. Ada kamu disitu, ya selalu ada, terimakasih buat itu. Ada rutinitas yang saya hujat habis-habisan. Ada kekosongan yang entah kenapa semakin kosong. Semakin tidak berarti. Semakin tidak mengerti. Bosan atau jenuh? Entah apalah namanya. Saat saya berpikir untuk out of the box, melakukan hal yang tidak biasa. Mencoba yang tidak pernah saya lakukan. Bahkan merencakan sebuah rencana gila yang saya tahu akan menimbulkan masalah. Untuk beberapa saat itu saya sadar saya mengesampingkan semua rasa takut, akal sehat, dan hanya berpikir 'do it when you want to do it'. Saat saya membiarkan emosi berlaku sesuka hatinya.

Dan aku tahu, ada yang salah, bukan aku, bukan kamu, bukan kita, lebih kepada hubungan manusia dengan sesuatu yang kita sebut hidup. Manusia bisa bermimpi, punya rasa, dan mempunyai idealisme tertentu. Tapi seiring bertambahnya detik di hidup ini, ada batas yang semakin mempertegas garisnya. Batas itu nyata, bukan khayal, meski maya, tapi dia ada, tanpa kita sadari sudah ada sejak dulu. Batas itu adalah elemen-elemen dari jiwa manusia, yang bertengger manis di kalimat itu. Dan aku sadar, sederet kata itu berjajar bukan tanpa maksud.

Emosi, perasaan yang timbul secara temporer, cenderung bersifat subjektif dan gampang berubah. Sering dikaitkan dengan jiwa yang masih labil. Hati? Apakah itu rasa? Yang notabene menurut saya adalah perasaan yang sesungguhnya dirasakan manusia terhadap suatu hal. Bedanya dengan emosi yang juga rasa, rasa ini letaknya lebih di dalam, cenderung tidak tampak, tenggelam di dasar jiwa seseorang, bukannya terombang-ambing di permukaan layaknya emosi. Dan hati ini, susah untuk dibaca, untuk dirasa, tapi yang aku tahu dia jujur dan mempunyai alasan yang kadang tidak dimengerti oleh alasan itu sendiri. Dan mind, pikir, sesuatu yang membuat kita tetap rasional, sesuatu yang sulit mengerti hati, dan sulit dimengerti hati. Pikir itu dimana alasan dikemukakan, saat ada ukuran kerasionalan buat tiap langkah manusia, saat segala sesuatu diukur dalam tolak ukur 5W dan 1H; what, who, where, when, why, and how. Dan kata terakhir yang bertengger di kalimat itu, reality atau kenyataan, sebuah batas maya yang nyata ada. Yang saat emosi ingin berlari, realita membatasi. Yang saat hati menunjukkan rasa, realita menentangnya. Dan saat pikir membuat rencana atau kita sebut mind map, realita membelokkannya, seakan tidak terima memberi jalan mulus tanpa kerikil dan batu sandungan. Ah tapi, bukan hanya realita yang membelot. Masing-masing punya jalan sendiri. Ini saat emosi berlari ke utara, hati melenggangkan kaki ke selatan, pikiran terbang ke barat, dan realita berlayar ke timur. Saat manusia harus memilih untuk berpihak pada siapa.

Sederet kata tentang emosi, hati, pikir dan realita. Membuat saya sadar, hidup tidak berjalan satu arah. Tiap elemen jiwa kita menentukan jalannya sendiri. Bahkan hebatnya tiap elemen pun saya yakin bisa bercabang, membingungkan. Tidak ada yang absolut salah, tidak juga ada yang absolut benar. Manusia punya pilihan, mana yang mau dia ikuti. No matter which path you will choose, GOD has the way. Ada saatnya kamu harus mengikut hati, ada saatnya pikir harus diutamakan, ada juga saat kamu hanya bisa berserah pada realita, atau saat kamu harus mengikuti arus emosi. Hidup bukan semata utara, selatan, barat, atau timur. Hidup manusia bukan jalan lurus. Dan yang paling penting emosi, hati, pikir dan realita tak akan pernah berjalan bergandengan tangan, tapi seiring dengan hidup manusia, mereka akan selalu berjalan, berjalan di jalurnya masing-masing. Manusia? Di sinilah tantangan itu, buat merangkul mereka yang berbeda jalan, mengkolaborasikannya buat menciptakan melodi yang indah hebat buat hidup si manusia. Bisa?