
Jumat, 31 Desember 2010
saying goodbye to 2010

Selasa, 28 Desember 2010
ASSignmentS = nuts!
Kamis, 23 Desember 2010
I'm running my mind into this....
Rabu, 17 November 2010
three sixty five ♥
....even my hand trembled and tears fell down.
It was just a “y” with “e” and “s” as companions followed. But saying it all together, is not simple. It was 365 days ago. It was me, with fears and worries, with heart that has fallen.
Call me a weirdo. No butterflies in my stomach. No happy little jumps. Just me. Bed. Tears. Hesitation...

...and after, 3 letters spoiled out, time flies.....365 days.
Having you is a miracle.....and curse at the same time. Loving you is easy, but not simple. Letting you into my life is a challenge I’ll accept and reject in a moment.
Laughs. Anger. Smiles. Tears. Happiness. Disappointment. Gratefulness.
Something called “Love”, makes everything’s worth.
Making a commitment is not easy for me, but with you, it feels fine..
Thanks GOD, for 365, for him, for making us this far.
November 10, 2010
ps: sorry for always being such an impulsive bitch...
Senin, 11 Oktober 2010
"Januari 2009. Awal yang buruk. I suddenly lost direction. Gak tau harus kemana. Tiba-tiba jalan yang udah gua planning bercabang ke segala arah. Situasi yang berbeda, medan yang berbeda, pertimbangan yang bikin pusing. Gua bingung..." kutipan dari jurnal pribadi, jaman SMA kelas 3.
Oktober 2010... Nyaris 2 tahun sejak tulisan itu ditulis. Serba berbeda, saat ini dan saat itu. Sudah bukan anak SMA, no more "why so serious?", no more putih abu-abu, no more prayitwinarso :p. Sudah gak harus bertarung dengan UAN, sudah dicap lulus (puji Tuhan), sudah diberi predikat alumnus (puji Tuhan, lagi). Sudah gak dituntut cari kuliah, sudah duduk tenang(?) di FEB UGM yang, entahlah, saya harap ini yang terbaik..
Satu hal yang sama....
saya masih gak tau....
.....harus kemana?
Jalan yang hilang itu masih belum saya temukan...
Sabtu, 02 Oktober 2010
And I'm saying goodnight...
to the silent sky.
to all little crickets on their concert hall called nature.
to all road rats who unbeknownst waited to be flattened by car’s tires or truck’s.
to the cheesy midnight TV shows.
to my messy little room.
to the empty chair downstair.
to my hanged-high-school-uniform I miss to wear in every morning Monday to Thursday.
to the drops falling from the tap in the bathroom.
to unwanted insects around.
to silly old photographs.
to my missing childhood innocence.
to my dysfunctional but amazing family.
to this independence country that keeps yelling out loud their independence try to look proud by saying that but seems unsure of it.
to all creativity that being killed by something called rules.
to the long road and the journey.
to my used-to-be-favorite-lullaby he played.
to the midnight-morning-calls usually rang by 2 a.m.
to my doggy dolls that usually taken by my passed away grandma to be put on her side.
to the creepy but calm and comfortable rooftop.
to the dust all over my desk.
to dirty clothes wait to be washed.
to the annoying cockroach that pee on my neck and leaving stain like it being smooched.
to people who always come and go.
to tired brain that keeps thinking the unnecessary.
to sleepy eyes that don’t want to be shut.
to mind that always talking and don’t want to be muted.
to all useless regrets.
to my un-replied text.
to all laughs over hidden crying.
to all dreams wanted to be realized.
to all the bitter truth.
to the waiting sunrise on the east horizon.
to you.
goodnight, sweet dreams.
Sabtu, 29 Mei 2010
jingga
Sabtu, 03 April 2010
Emotions, Heart, Mind, and Reality
"then the emotions collided with heart and mind, yet it trembling to the reality"
Beberapa hari yang lalu, entah kenapa secara tidak sadar saya menulis kata-kata itu. Melesat begitu saja di kepala, dan terpampang sebagai status salah satu situs pertemanan yang saya miliki. Saya benar-benar tidak tahu apa yg saya maksud dengan sederet kata itu. Saat itu lewat tengah malam, saya pikir, "ah biasa, hanya pikiran random yg selalu jadi tamu malam hari di pikiran saya", sederet kata tanpa arti tertentu.
Lalu HP saya berbunyi, 1 pesan masuk, dari seseorang yg pamit tidur beberapa menit sebelumnya, dia bertanya, tentang arti sederet kata itu. Jujur saya langsung terdiam, sadar akan ketidaktahuan saya akan kalimat itu. Dan diam, karena saya sadar kalimat itu bukan sederet kata tanpa arti. Tapi apa artinya?
Kamu bertanya, "tentang kita?". Tetap. Saya tidak bisa menjawab. Masih memutar otak. Pikir saya menghasilkan kata ini bukan tanpa sebab. Tangan saya menulis bukan tanpa arti. Hanya saya tenggelam dalam bingung akan pencarian sebuah arti. Lalu sebuah flashback berputar di kepala saya, tentang aku, kamu, hidupku. Tentang hari-hariku akhir-akhir ini. Ada kamu disitu, ya selalu ada, terimakasih buat itu. Ada rutinitas yang saya hujat habis-habisan. Ada kekosongan yang entah kenapa semakin kosong. Semakin tidak berarti. Semakin tidak mengerti. Bosan atau jenuh? Entah apalah namanya. Saat saya berpikir untuk out of the box, melakukan hal yang tidak biasa. Mencoba yang tidak pernah saya lakukan. Bahkan merencakan sebuah rencana gila yang saya tahu akan menimbulkan masalah. Untuk beberapa saat itu saya sadar saya mengesampingkan semua rasa takut, akal sehat, dan hanya berpikir 'do it when you want to do it'. Saat saya membiarkan emosi berlaku sesuka hatinya.
Dan aku tahu, ada yang salah, bukan aku, bukan kamu, bukan kita, lebih kepada hubungan manusia dengan sesuatu yang kita sebut hidup. Manusia bisa bermimpi, punya rasa, dan mempunyai idealisme tertentu. Tapi seiring bertambahnya detik di hidup ini, ada batas yang semakin mempertegas garisnya. Batas itu nyata, bukan khayal, meski maya, tapi dia ada, tanpa kita sadari sudah ada sejak dulu. Batas itu adalah elemen-elemen dari jiwa manusia, yang bertengger manis di kalimat itu. Dan aku sadar, sederet kata itu berjajar bukan tanpa maksud.
Emosi, perasaan yang timbul secara temporer, cenderung bersifat subjektif dan gampang berubah. Sering dikaitkan dengan jiwa yang masih labil. Hati? Apakah itu rasa? Yang notabene menurut saya adalah perasaan yang sesungguhnya dirasakan manusia terhadap suatu hal. Bedanya dengan emosi yang juga rasa, rasa ini letaknya lebih di dalam, cenderung tidak tampak, tenggelam di dasar jiwa seseorang, bukannya terombang-ambing di permukaan layaknya emosi. Dan hati ini, susah untuk dibaca, untuk dirasa, tapi yang aku tahu dia jujur dan mempunyai alasan yang kadang tidak dimengerti oleh alasan itu sendiri. Dan mind, pikir, sesuatu yang membuat kita tetap rasional, sesuatu yang sulit mengerti hati, dan sulit dimengerti hati. Pikir itu dimana alasan dikemukakan, saat ada ukuran kerasionalan buat tiap langkah manusia, saat segala sesuatu diukur dalam tolak ukur 5W dan 1H; what, who, where, when, why, and how. Dan kata terakhir yang bertengger di kalimat itu, reality atau kenyataan, sebuah batas maya yang nyata ada. Yang saat emosi ingin berlari, realita membatasi. Yang saat hati menunjukkan rasa, realita menentangnya. Dan saat pikir membuat rencana atau kita sebut mind map, realita membelokkannya, seakan tidak terima memberi jalan mulus tanpa kerikil dan batu sandungan. Ah tapi, bukan hanya realita yang membelot. Masing-masing punya jalan sendiri. Ini saat emosi berlari ke utara, hati melenggangkan kaki ke selatan, pikiran terbang ke barat, dan realita berlayar ke timur. Saat manusia harus memilih untuk berpihak pada siapa.
Sederet kata tentang emosi, hati, pikir dan realita. Membuat saya sadar, hidup tidak berjalan satu arah. Tiap elemen jiwa kita menentukan jalannya sendiri. Bahkan hebatnya tiap elemen pun saya yakin bisa bercabang, membingungkan. Tidak ada yang absolut salah, tidak juga ada yang absolut benar. Manusia punya pilihan, mana yang mau dia ikuti. No matter which path you will choose, GOD has the way. Ada saatnya kamu harus mengikut hati, ada saatnya pikir harus diutamakan, ada juga saat kamu hanya bisa berserah pada realita, atau saat kamu harus mengikuti arus emosi. Hidup bukan semata utara, selatan, barat, atau timur. Hidup manusia bukan jalan lurus. Dan yang paling penting emosi, hati, pikir dan realita tak akan pernah berjalan bergandengan tangan, tapi seiring dengan hidup manusia, mereka akan selalu berjalan, berjalan di jalurnya masing-masing. Manusia? Di sinilah tantangan itu, buat merangkul mereka yang berbeda jalan, mengkolaborasikannya buat menciptakan melodi yang indah hebat buat hidup si manusia. Bisa?
Kamis, 25 Maret 2010
do I have to titled it?
memuram durja, memaki diri
menyalahkan raga yang menolak dipacu
mengkambinghitamkan pikiran yang semakin rancu
jarum jam dindingku memaki
menolak untuk meniti detik sepi
berputar dalam lingkaran 360derajat tiada henti
lintasan yang sama
keterbatasan tanpa batas
lukisan di dindingku mengumpat
merengek untuk melompat
bosan diam dalam pigura segi empat
sudut yang sama
dunia dalam batas
dan waktu seakan terhenti
terperangkap dalam batas maya
yang entah mengapa terasa nyata
dan hati melirih tuk berhenti
otak kehilangan daya
yang aku tahu protesnya nyata
mungkin hanya lelah
dan mungkin bosan
penat
atau kehilangan tujuan
definisi masa depanku buram
saat peta pikir tak lagi jadi patokan
saat hati mulai bersuara
berkontradiksi dengan akal sehat
dan kenyataan...
terlihat semakin kejam.
Kamis, 25 Februari 2010
Relationship and Uno Stacko
standing sure. look so strong and so settle.
it was the condition when the game just started.
as the game being played...
it's getting higher.
stands taller than before.
but in the way you made it taller,
you left holes. made it unsure.
starts shaking.
blurring...
shows it fragility.
one false step can fall it down...
stumble.
breaking it into pieces.
and in the end you have to choose...
to rebuild it.
or just dump the ruins
and leave it...
you choose.

