Selasa, 09 Oktober 2012

Vakansi Musim Panas


Summer is such a perfect time for a getaway. Summer is such a perfect time for an escape. And summer is such a perfect time to do something crazy.
For me, summer is such a perfect time to find pieces of yourself in the middle of nowhere.

Libur musim panas, bisa jadi adalah liburan yang paling ditunggu oleh manusia seluruh jagad raya. Waktu libur yang panjang, cuaca yang bersahabat, pelarian dari kepenatan rutinitas. Setidaknya di negara 4 musim, liburan musim panas adalah satu hal yang dinanti-nanti.

Mungkin tidak ada istilah 'summer holiday' di Indonesia. Tapi ya saya ada-adain aja kayaknya sah-sah aja ya. Asal waktu liburnya panjang dan pas musim panas kemarau, cocik lah. Panjangnya waktu libur disini juga ya gak seheboh summer holiday-nya negara barat yang tembus 3 bulan, paling pol mentok ya 2 bulan. Itu juga liburnya anak kuliahan, gak tau kalo kerja nanti masih ada libur yang kayak begitu engga...hmmm #mendadakgalau

So, my trip's path line for this summer was... *drumroll*
Jogja - Jakarta - Saigon (HCMC) - Jakarta - Labuan Bajo - Cunca Wulang - Waerebo - Cunca Wulang - Labuan Bajo - P. Bidadari - P. Rinca - P. Kelor - Labuan Bajo - P. Moyo - Gili Trawangan - Mt. Rinjani - Denpasar - Jakarta - Jogja
One great series for one summer vacation! Well, maybe not exactly a vacation since the reason why I went to Nusa Tenggara was because the KKN (Kuliah Kerja Nyata) program. But in my case (unit 72), it was, indeed, a vacation :)) Even we named our group as "Piknik '72", and yes, maybe our main intention is piknik.


Setelah 5 minggu menunaikan kewajiban KKN geje di salah satu surga wisata Flores Barat, Desa Cunca Wulang, saya masih melanjutkan petualangan dengan mlipir-mlipir ke beberapa tempat di perjalanan pulang menuju tanah Jawa. Cunca Wulang sendiri sangat tersohor dengan keindahan air terjun dan canyon-nya. Ternyata tak hanya itu, di kawasan desa sendiri masih ada Liang Rodak dan Cunca Jami yang tak kalah indahnya dengan Cunca Wulang. Keluar desa sedikit, ada Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang di kawasan hutan Mbeliling. Di Flores, saya menyempatkan diri mengunjungi desa wisata yang tersohor di kalangan turis mancanegara, Desa Waerebo. Sangat disayangkan tempat seindah ini justru menuai minat yang minim dari turis-turis lokal, menurut pengurus adat di sana, jarang sekali turis lokal datang berkunjung. Konon katanya bahkan belum ada satupun orang Manggarai yang berkunjung. Hal ini secara langsung menunjukkan kesadaran dan minat wisata yang rendah dari masyarakat lokal itu sendiri, padahal menurut saya itu sangat penting untuk memacu berkembangnya pariwisata suatu daerah.


Oke lanjut. Hal yang sedang menjadi primadona Flores, terutama Manggarai Barat, apalagi kalau bukan Taman Nasional Komodo (TNK). TNK terdiri dari 3 pulau yang adalah pulau-pulau dimana para komodo-komodo itu eksis dan menjalani kehidupan liarnya, pulau tersebut adalah: Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar. Yang paling menggoda jelas Pulau Komodo dengan Pink Beach-nya yang eksotis, sayang karena keadaan laut yang tidak memungkinkan, kami tidak diperbolehkan ke sana. Jadilah Pulau Rinca yang menjadi tempat hijrah kami untuk menjenguk mbah komodo ini. Kata orang-orang kehidupan komodo di Rinca lebih liar daripada di P. Komodo. Tak hanya komodo, gugusan pulau-pulau di selat Flores ini luar biasa keren! Snorkling spot tersebar nyaris di tiap pulau, gak jauh-jauh dari daratan, dan gak usah repot-repot diving (ra nduwe license cuuk). Saya sendiri hanya sempat mampir ke 2 snorkling spot, Pulau Bidadari dan Pulau Kelor.


Saatnya meninggalkan Flores, saya bersama 2 orang wanita(?) tangguh lainnya mlipir dulu ke Pulau Moyo di utara Sumbawa Besar. Pulau yang tersohor sejak kunjungan Lady Di pada tahun 90an dan akhir-akhir ini menjadi destinasi bulan madu si pasangan royal wedding-nya England, Mas William ama Mbak Kate. Keren sih... Rangkaian air terjun dan laguna-lagunanya ciamik banget. Laut dan pantai-pantainya gak usah ditanya lagi. Santai-santai di atas Crocodile Head atau di tengah laut di pulau karang kecil sambil nunggu sunset might be a good idea kalo gak punya duit 1000 dollar. Yeap, there always be some bad things among all those goodness, right?


Lanjut Lombok, kita bertiga langsung cabut ke Gili Trawangan bersama 6 orang lainnya yang sudah lebih dulu sampai di sana. Nge-camp di sana 3 hari, menikmati ombak, pasir dan matahari, syuper. Kembali ke Lombok, kami semua mempersiapkan diri untuk Gunung Rinjani. Dan yak, Rinjani adalah gunung pertama saya. Bahkan Merapi pun belum pernah kudaki. Pancal lah! Kenekatan berbuah manis, pemandangan di Rinjani memang sangat super sekali. Super capek, tapi super cantik! Pendakian pertama di gunung tertinggi ke-3 di Indonesia, saya berhasil mencapai puncak dengan terseok-seok. Itu sesuatu banget. Dari total 5 hari kami ber-Rinjani ria, 2 malam kami habiskan di Danau Segara Anak. Dan saya pun jatuh cinta sama Segara Anak. Asik banget kayaknya punya rumah kayu mungil di pinggir danau ini, menjalani hidup tenang dan damai jauh dari kegaduhan.. :')


Selesai Rinjani, kami pun bersiap mengakhiri petualangan singkat ini. Bersiap pulang setelah lama meninggalkan rumah. Saya dan Dorkas pulang dari Denpasar melalui jalur udara. Sisanya berpencar dan mencari jalan pulang sesuai keyakinan masing-masing, ada yang langsung terbang dari Lombok, lanjut plesir di Bali, ada yang ngeteng jalur darat menuju Yogyakarta tercinta. Dan yak, berakhirlah rangkaian vakansi musim panas kami.

Bagi saya, perjalanan pulang kali itu terasa berat. Rasanya saya belum siap kembali pada kenyataan. Kuliah dan bersiap menghadapi skripsi. Kembali kepada tanggung jawab.
Saya belajar banyak dari 2 bulan itu. Terlalu banyak untuk dituangkan ke dalam kata. As I said before, that was such a perfect time to find pieces of ourselves, from those middle of nowhere. Saya belajar banyak dari alam, dari kebesaran Sang Pencipta. Saya belajar banyak dari manusia, dari teman-teman seperjuangan saya, dan dari manusia-manusia asing yang saya jumpai di jalan. Saya belajar banyak dari kenyataan yang ada, pemerintahan, masyarakat, budaya. Saya belajar banyak dari saya sendiri, dari sesuatu yang sebelumnya tidak saya ketahui ada pada diri saya. Dan dari perjalanan, saya belajar mengenal diri saya.

Saya sangat menyukai perjalanan. Baik yang panjang maupun singkat. Saya menikmati proses. Destinasi itu penting dalam sebuah vakansi. Tapi yang paling penting justru terletak pada perjalanan, proses dan pengalaman selama bervakansi. Pada suatu group travel seperti di atas, saya dapat banyak pelajaran mengenai berempati dan memahami. Pada lain waktu saat ber-solo trip, saya dapat banyak belajar buat mengenal diri sendiri dan bersosialisasi dengan keasingan. Dua-duanya bagus, dua-duanya sama menyenangkan. Tinggal dipilih sesuai kebutuhan saja.

Saat ini rintik hujan mulai sesekali jatuh membasahi bumi. Summer is officially over. Kuliah sudah mulai sejak sebulan lalu. Dan saya baru saja, akhirnya, menyelesaikan postingan ini. Musim panas memang waktu yang paling tepat untuk bervakansi. Entah akan kemana saya musim panas tahun depan. Another summer vacation, another story to be told. It is the eager to travel that takes you everywhere, that makes you learn everything, that open-up your mind to experience something new. Kalau ingin melihat dunia, kita harus berani meninggalkan zona nyaman. Tidak ada yang tanpa resiko. Saya menantikan cerita perjalanan-perjalanan lainnya di hidup saya. Bukan hanya dari bervakansi, tapi dari segalanya.


Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya :)

Senin, 08 Oktober 2012

Tentang Blogging

Terkadang saya mempertanyakan tujuan blogging. Untuk apa sih kita menulis? Mengunggah cerita-cerita remeh dari cuplikan hidup kita ke dunia maya ini dan menyandingkannya bersama jutaan terabyte file-file yang lain. Untuk saya yang bukan siapa-siapa dan berkemampuan menulis yang biasa-biasa terkadang blogging itu non-sense. Dalam social life manusia-manusia jaman sekarang, mungkin online media semacam blog bisa jadi panggung pertunjukan pendongkrak status sosial.

Jujur saja, saya bukan orang yang terlalu terobsesi untuk berada di puncak piramida kehidupan sosial. Untuk apa? Social life adalah penyeimbang hidup, bukan tujuan hidup. Karena hal ini saya pun terkadang mempertanyakan nilai fungsi blog buat seorang saya. Apalagi ya, saya mempunyai 4 buah blog. Bayangkan. Blog yang sedang anda baca ini dan 1 account Tumblr dengan 2 anak blog. Dari keempat blog tersebut yang paling sering saya fungsikan adalah photoblog (Tumblr) saya yang memuat hasil-hasil foto saya yang random dengan sedikit cerita dan atau tulisan tentang foto tersebut. Tumblr induk isinya random-randoman, anak yang satunya isinya sok puitis-puitisan yang kadang malesin buat dibaca. Ga ngerti juga kenapa saya suka misah-misahin blog gitu. Kalau blog yang ini, cerita yang lebih serius kali ya, kalo niat cerita dan bukan sekedar reblog atau ngomel, hehehe.

Awal tahun 2012, saya sempet kepikiran buat men-deactivate blog ini. Lho, kenapa malah yang lebih serius yang malah dibusak to? Saya juga gatau. Mungkin karena statistik random saya jauh lebih tinggi daripada mood serius? Bisa jadi.

Eh, sebenernya saya sering lho dapet mood cerita serius. Tuh liat aja tuh di draft blog ini. Tapi berhubung mood seriusnya gak betah lama-lama, ya jadinya cuma draft-draft itu, yang pol mentok cuma separo jalan...huahahaha :p

Oke lanjut. Alasan utama yang cukup logis untuk menghapus blog ini adalah perampingan jumlah blog. Meskipun begitu, akhirnya saya yang sedikit melankolis pun merasa eman-eman mau menghapus blog ini. Ujung dari pemikiran perampingan jumlah blog, bisa ditebak, saya gak sampai hati ngehapusnya. Satu saat waktu mau menghapus blog ini, saya membaca ulang postingan-postingan blog dari yang paling baru sampai yang paling lawas. Sampai yang masih alay. Alay banget. Pol.

Jadi ceritanya blog ini saya buat waktu saya masih SMA, masih labil-labilnya. Postingan jadul nan alay itu emang ga banyak, jaman dulu pun saya gak rajin ngeblog. Waktu membacanya, duh, hasrat ingin ngakak guling-guling, pukpuk-in diri saya sendiri waktu umur 17 tahun, dan segera membumihanguskan postingan tersebut bercampur jadi satu. Malu sekali kalau ada yang membacanya. Tapi untuk apa malu? Sekali lagi saya membacanya, saya melihat sebuah proses. Dari super-alay, alay-KW1, alay-regular, sedikit-alay, sampai saya yang sekarang ini. Masih alay? Yoben. Bukan hanya gaya penulisan, tapi juga dari cerita-remeh-cuplikan-hidup-saya-yang-sudah-lewat itu. Tulisan-tulisan itu seakan membawa saya ke dalam sebuah lorong waktu. Belajar, beranalogi, berproses, dan menuangkannya ke dalam rangkaian kata. Mungkin non-sense buat orang lain. Tapi tidak buat saya, si penulis itu sendiri, si tokoh utama dalam cerita-cerita itu.

Hari ini saya berjalan-jalan ke blog tetangga. Ada rasa kagum pada cerita-cerita mereka. Bagaimana mereka menuangkannya dalam kata dan menarik kita untuk ikut 'mengalami'. Ada rasa rindu. Untuk bercerita yang remeh-remeh itu. Menarik diri ke dalam proses yang telah/sedang/akan kita alami ke dalam kata-kata. Saya senang saya batal menghapus blog ini. Setelah ini mungkin saya akan lebih sering bercerita lagi. Tentang kejadian-kejadian remeh. Tentang pemikiran gak penting yang dibikin ribet. Tentang apapun. Bisa juga saya mangkir dan tetap jarang menulis. Entahlah, kita lihat saja.

Saya bukan blogger serius. Bukan buat cari panggung. Saya cuma kadang ingin menulis. Bercerita dan berkata-kata. Bukan buat anda, tapi buat saya sendiri.
Itu saja.



nb: Ada satu alesan lagi kenapa saya ga jadi hapus blog ini. Apakah itu? Sebenernya saya gatau gimana cara ngapus account blog ini...hehehe