Minggu, 06 Januari 2013

Catatan akhir, dan awal.


Mari kita melepas imaji. Berganti pikir. Mengoyak sudut pandang yang terlanjur kaku. Mengubah diri yang terlanjur aku.
Mancoba memahami ulang,
Hanya sejenak…
Sesaat sebelum tahun kita bertambah satu.

Aku bukan pencerita yang baik, pun penghantar imaji yang handal. Yang aku tahu hanya absurd pikirku, selama dua belas purnama dan sepanjang tiga ratus enam puluh enam matahari. 
Yang aku coba pahami adalah absurdnya hidup, selama dua belas purnama dan sepanjang tiga ratus enam puluh enam matahari.
Pun bagaimana, ini adalah perjalanan pribadi.

Kulepas bebas jiwaku berkelana, mencari tujuan yang nyaris semu. Dari alam raya yang membentang buas hingga ke jagad maya yang bengis bergelora. Dan semua semu. Keabadian hanya mitos, bung. Tapi sekali lagi, tidak sepenuhnya semu, hanya nyaris.
Ada, yang tiada. Tiada, yang senantiasa ada.

Kubiarkan ragaku bertualang, sampai didera lelah dan dipaksa tunduk oleh semesta. Berjalanlah sampai kakimu tak mampu lagi melangkah. Lihat lebih banyak, pahami lebih dalam, kagumi Sang Khalik dari rupa-rupa itu. Begitulah caraku membangun empati, mengimani dan mengamini hidup. Baik buruk. Susah senang. Gelap terang. Yang aku pelajari, Dia benar-benar ada, entah apa namanya, atau bagaimana Ia harus disembah. Yang aku yakini, hasil karyaNya inilah representasi nyataNya, kesempurnaan yang berbalut ketidaksempurnaan, untuk disyukuri dan untuk dikasihi.
Rupa-rupa yang kita lihat, itulah Dia.
...Dan aku pun mendamba untuk menjelajah Ia lebih jauh, lebih dalam, lebih intim.

Alam pikirku lebih liar lagi, semakin liar hingga pemberontakan terjadi secara konstan. Layaknya negara yang diguncang huru-hara, berbahaya. Penguasa bisa digulingkan sewaktu-waktu. Pertanyaannya, siapa penguasa? Terserah. Karena pikirku bukan negara, pun korporasi yang dituntut untuk runtut. Karena pikirku liar dan dia hutan belantara. Setidaknya aku menganggapnya seperti itu. Menjinakkan sama saja mengandangkan, sama saja mengungkung, sama saja mengenyahkan diri dari konsep ‘berkembang’. Biarkan belantara berkuasa, dan hukum rimba berlaku.
Sampai nanti waktunya dia dijinakkan oleh kebijaksaan alam semesta. Sampai waktunya aku kembali ke peluk ibu bumi.

Oh ya, aku masih membenci waktu. Si bajingan arogan yang menyadarkan aku pada keterbatasan. Si bangsat yang menampar mimpi manusia akan keabadian. Si pelari super cepat yang enggan membiarkan kita melenggang santai. Si brengsek, yang aku segani.
Kepada waktu, aku berjanji akan lebih menghargaimu. Menyetubuhi dengan sebaik-baiknya selagi kau ada, sebelum kau melesat jauh. Tak peduli betapa benci aku hidup dalam belenggumu.


…dan tibalah waktu membawaku ke sini, kembali ke penghujung tahun. Awal tahun. Apa spesialnya? Awal atau akhir itu cuma label. Awal atau akhir, kita sendiri penentunya, bukan sekedar angka yang lahir dari kesepakatan sekumpulan manusia. Awal atau akhir, bisa saat ini, besok, lusa, atau tak pernah ada sama sekali.
Tapi entahlah, kau bisa saja menyebut ini ritualis. Refleksi akhir tahun dan resolusi tahun baru. Klise dan (terkadang) omong kosong. Tapi yang klise dan omong kosong itu bukan berarti tak ada artinya sama sekali.
Apa salahnya kita bercermin ulang? Berkaca diri dan belajar dari yang telah lalu. Apa salahnya menantang diri untuk suatu yang lebih baik? Untuk sekedar penyemangat membangun diri yang lebih apik.
Omong kosong atau bukan, biarlah waktu yang menentukan.


Salah...
Biar aku sendiri yang menentukan.
Pun resolusimu, biar kamu yang menentukan.

Selamat tahun baru,
selamat menyusun serpih kehidupan pada tiga ratus enam puluh lima langkah matahari tahun ini.


Ps: Make your life worth living. Love your life then life will love you back.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar